Pola Makan Tinggi Garam Picu Hipertensi


Prevalensi hipertensi penduduk Indonesia mencapai 32,2 persen dari populasi. Ini artinya tanda bahaya karena tekanan darah tinggi bisa berujung pada terjadinya stroke, gagal ginjal, atau penyakit jantung. Kecintaan orang kita pada makanan

Hasil analisis Riset Kese­hatan Dasar (Riskesdas) 2007, seperti dikutip dari Litbang Depkes, juga menunjukkan hampir seperem­pat penduduk Indonesia (24,5 persen) berusia di atas 10 tahun mengonsumsi makanan asin setiap hari. Coba saja cermati kebiasaan masyarakat kita yang menggemari menu ikan asin, nasi hangat, plus sambal terasi. Makan gorengan diberi garam, memasak sayur pasti berbumbu garam, singkong rebus ditaburi garam, bahkan hidangan buka puasa seperti kolak pun dibubuhi sedikit garam.

Angka hipertensi tersebut bahkan lebih tinggi, jika didasar­kan pada pengukuran tekanan darah, yaitu sekitar 34,9 persen dari populasi. “Angka tersebut memang sangat tinggi, semen- tara di dunia kisarannya sekitar 30-32 persen,” ujar Prof. Dr. Rully MA Roesli, Sp.PD-KGH.

Stroke Usia 30

Tentu saja garam tidak menjadi penyebab tunggal hipertensi. Ba­nyak faktor lain yang membuat angka kejadian hipertensi cukup tinggi. Salah satunya perubahan gaya hidup dari urban menjadi metropolitan. Sekarang begitu mudah menjumpai restoran junk food di daerah sekalipun.

Rasa gurih membuat junk food digemari segala kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang de­wasa. Padahal makanan tersebut, selain tinggi kalori, lemak, dan garam, pastinya kurang serat.

Pola makan seperti ini tentu­nya membawa dampak negatif. Prof. Rully yang juga menjabat ketua InaSH (Indonesian Society of Hypertension), mencurigai kemungkinan makin banyaknya orang yang mengalami hipertensi gara-gara pola makan seperti itu. Jadi tidaklah heran kalau usia penderita stroke, gagal jantung, atau gagal ginjal makin muda.

Prof. Rully pernah menangani pasien cuci darah yang berusia 20 tahunan. Stroke pun kini mulai banyak dialami usia 30 tahun. Penyakit-penyakit tersebut sudah datang lebih cepat pada orang yang masih tergolong usia produktif.

Di Cekoki Mi  Instant

Selain junk food, anak-anak kini banyak yang “dicekoki” mi instan. “Kita tidak pernah tahu berapa kandungan garam maupun glutamatnya. Apalagi mi instan juga tidak ada seratnya,” ujar Prof. Rully lagi.

Konsumsi makanan tersebut dikombinasi dengan kurang gerak, dapat meningkatkan risiko hipertensi dan juga obesitas. Anak-anak sekarang, menurut pengamatan Prof. Rully, memang kurang bergerak.Sangat berbeda dengan anak-anak di masa dulu.

Permainan seperti petak umpet atau gobak sodor membuat anak-anak di era 70 atau 80-an banyak bergerak. Sekarang, anak-anak lebih banyak meng­habiskan waktu di depan televisi atau komputer sambil bermain play station.

Sementara orang dewasa yang sudah menjadi pekerja kantoran, juga lebih banyak duduk di belakang meja. Aktivitas mereka untuk berolahraga sangat jauh berkurang.

Karena itu,InaSH berupaya membangkitkan kesadaran tentang bahaya perubahan gaya hidup tersebut. Contohnya, dengan menggugah kesadaran untuk banyak bergerak clan mengubah pola makan. Terma­suk mengingatkan masyarakat untuk membaca label makanan, terlebih pada kudapan ataupun makanan tinggi garam.

Kudapan maupun makanan tinggi garam biasanya dijumpai pada keripik atau ikan asin. Hanya saja, mengonsumsi ikan asin bukan menjadi satu-satunya faktor risiko terjadinya hipertensi.

Masyarakat yang tinggal di pesisir dan mengonsumsi ikan asin bisa tidak terkena hipertensi. Itu karena mereka aktif berge­rak, sehingga garam ikut keluar bersama keringat. Namun, kondisi ini bisa berbalik ketika masyarakat tersebut beralih ke sepeda motor ketimbang berjalan kaki. Begitu aktivitas lebih banyak menggunakan sepeda motor sementara asupan tinggi garam terus berjalan, risiko hipertensi ikut meningkat.

Jadi perubahan gaya hidup inilah yang sebenarnya harus dikhawatirkan. Untuk mengatasinya, masyarakat harus diedukasi tentang gaya hidup yang lebih sehat, misalnya dengan mensosialisasikan pentingnya konsumsi serat lebih banyak, lebih banyak bergerak, serta cukup istirahat.

Cek Ruti Tekanan Darah

Tak kalah penting, juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin, guna mence­gah hipertensi. Rencananya InaSH akan membuat program pemeriksaan tekanan darah di pusat perbelanjaan, untuk tujuan penyaclaran tersebut.

“Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali melakukan peme­riksaan tekanan darah? Bulan lalu atau tiga tahun lalu?” tanya Prof. Rully kepada GHS.

Pemeriksaan tekanan darah, tambahnya, bisa dilakukan oleh dokter atau dilakukan sendid di rumah. Kalau tekanan darah mulai meningkat sudah harus waspada clan segera pergi ke dokter.

Dengan cara seperti itu, kejadian hipertensi bisa dicegah clan ditekan. “Kalau tidak dicegah, kerugian ekonomi yang ditimbulkan akan sangat besar,” katanya.

Para dokter juga kembali diingatkan akan cara mengukur tekanan darah yang benar. “Walaupun dokter sudah tahu cara mengukurtekanan darah, kota masih belum memiliki standardisasi mengukur tekan­an darah yang benar. Belum seragam. Itu sebabnya, InaSH mempromosikan cara mengukur tekanan darah yang seragam agar data yang terkumpul lebih valid,” imbuh Prof. Rully.

Karena Polusi udara

Polusi udara juga harus dipertimbangkan sebagaifaktor risiko dari kejadian hipertensi. Peneliti di Jerman menjumpai bahwa paparan polusi jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah.

Para peneliti dari University of Dusiburg-Essen, seperti dikutip BBC, menggunakan data dari studi populasi yang sedang berlangsung, yaitu Heinz Nixdorf Recall Study. Mereka mengamati efek dari paparan polusi udara terhadap tekanan darah antara tahun 2000-2003.

Konsentrasi rata-rata dari po­lusi selama setahun dicatat clan tekanan darah diukur.Diketahui Rata-rata tekanan darah arteri meningkat.

Dr. Barbara Hoffman, kepala Unit of Environmental and Clin­ical Epidemiology, University of Duisburg-Essen yang memimpin penelitian mengatakan, “Hasil tersebut menunjukkan bahwa tinggal di area dengan kadar partikel polusi udara lebih tinggi dikaitkan dengan tekanan darah yang lebih tinggi.” (Diana Yunita Sari)

 

Sumber : Gaya Hidup Sehat No. 578 / 13 – 19 Agustus  2010

http://www.pusat2.litbang.depkes.go.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s