Sebagai Muslimah

2

Menghembuskan Nafas..
Mengelus dada..
Mulut pun berucap sabar..sabar..harus tetep sabar..!!!

Hadapi dan jalani saja dengan senyuman..
Tak boleh kujadikan beban..
Harus tetap tunjukan sosok yang dapat mencerminkan kepribadian yang terbaik dan memberikan tauladan yang baik,sehingga mampu bertanggung jawab,bijaksana,dewasa,dan tetep menjadi sosok yang kokoh,tegar,nan tanguh..sebagai
muslimah..

~ Dinni Hanidah ^^

Iklan

** CINTA **

0

Cinta. Sebuah kata singkat yang memiliki makna luas. Walaupun belum teridentifikasi secara pasti, namun eksistensi cinta diakui oleh semua orang. Al-Ghazali mengatakan cinta itu ibarat sebatang kayu yang baik. Akarnya tetap di bumi, cabangya di langit dan buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan. Ditujukan oleh pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan, seperti ditujukkanya asap dalam api dan ditunjukkanya buah dan pohon.

 

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertempuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin. Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah, karena Allah mengatakan, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjiha di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Prestasi kepahlawanan para pejuang tidak terlepas dari pengaruh cintanya seorang pemuda kepada pemudi. Umar bin Abdul Aziz berhasil memenangkan pertarungan cinta sucinya kepada Allah dari pada cinta tidak bertuannya kepada seorang gadis. Tidak ada yang salah pada cinta. Berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat.

 

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu. 

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu 

 

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu. 

 

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. 

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu. 

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu. 

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu. 

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu. 

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu. 

Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
~ Dinni. H.

3__Mengingat-Mu__3

0

Mengingat-Mu….

Mengingat-Mu membuat  tersenyum,

Imaji ku mengawang,

Indah..

Kurasakan getaran jiwa ..

Getaran cinta dengan perasaan membucah…

Andai bisa kupeluk diri-Mu pasti sudah kulakukan itu sejak dulu

Aku tahu diri-Mu selalu tersenyum juga disana…

Aku tahu diri-Mu begitu halus…

Meski dengan berbisik, diri-Mu begitu awas mendengar setiap kata yang terucap…

 

Mengingat-Mu…

Membuatku tak sanggup menahan rindu…

Ingin selalu berada di dekat-Mu…

Ingin Engkau selalu mengingatku dan menempatkanku dihati-Mu…

Aku hanya ikuti kata hati dan nuraniku …

Bahwa Kau begitu mencintai dan menyayangiku…

Engkau selalu menuntunku meski kadang aku tak meminta-Mu

Engkau juga selalu menjagaku, meski seringkali karena kebodohanku..

Aku malah meminta perlindungan dan penjagaan pada sesuatu yang tak punya daya upaya…

Engkau juga selalu bersedih kala aku bersedih, kau ilhamkan padaku “ada Aku disini..sudah jangan bersedih, everthing is gonna be okay my dear”

Engkau juga memelukku dengan pelukan yang erat seolah tak rela jika kita berpisah lagi ..

Engkau membisikan kata-kata indah “Aku menghitung setiap tangismu, maka bersabarlah…akan ada akhir yang indah jika kau mau bersabar dan biarkan Aku menyelesaikan setiap masalahmu…semua akan indah pada waktunya”

“Teruslah mendekat padaKu teruslah berjalan ke arahKu kita bersama menuju cahaya…”

Ah..mengingatMu dengan sedikit kesyukuran sudah membuatku tersipu malu menyadari setiap kebodohan yang pernah kulakukan dan mungkin tanpa sadar kuulangi kembali …

Maka izinkan aku mengingat-Mu …

Dalam setiap hela nafasku …

Dalam setiap degup jantung …

Dalam sisa akhir hidupku karena aku tahu waktuku tak banyak lagi..

Maka izinkan aku mengingat-Mu dalam keterpekuran dan kekaguman seta kesyukuran atas segala nikmat yang Kau beri….

Love You so much My Dear..with all my heart, and soul  meski dengan segala keterbatasan ilmuku dalam mengenal-Mu..

Maka izinkan aku terus mendekat padaMu hingga tak ada batas antara kita bedua ….

 

~ Dinni. H.

ALLAH..ALLAH OH..ALLAH

0

Ya Allah akankah aku kan bisa bertahan melewati ini semua?
Semua yang harus kujalani sendiri
yang rasanya diri ini sudah tak mampu lagi
tanggisan qolbu yang tak pernah berhenti menetes dikedua bola mataku
hembusan angin terus menusuk jiwa yang papa ini Ya Rabbi
Duhai Allah…kuatkan aku..tegarkan aku..dan sabarkanlah aku Ya Allah…
aku tau tak ada beban yang Kau berikan diluar batas kemampuanku
walau terasa sesak sanubari ini, namun tetap ku kokohkan sekuat hati karna-Mu
Allah..Allah..Oh Allah..tetaplah ada tuk menemaniku tuk melewati semua ini selamanya
dan hanya Asma-Mu lah yang senantiasa terlukis nan aku panjatkan disetiap hembusan nafasku..

 

~ Dinni. H.

^^^__ BERSYUKUR __^^^

0

Syukur ?

 

Hanya 2 kata, tetapi banyak makna di dalamnya yang sering kita lupakan, astagfirullah..

Sifat manusia yang sering kali terulangi, di saat kita sedang senang, bahagia, mendapatkan sesuatu yang kita harapkan terkadang kita lupa dengan rasa syukur itu. Lain halnya ketika kita sedang sedih, sakit, banyak masalah dan apa yang kita inginkan tidak tercapai, kita selalu meminta pertolongan Allah dengan cucuran air mata yang tiada henti terus mengalir. Naudzubillah mindzalik.

 

Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya (Ibrahim: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah) dan batin (baatinah) serta gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam kenikmatan itu dan mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut dengan berulang-ulang sebanyak 31 kali, “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang seperti itu, Amiin..

 

Syukur tidak hanya sekedar ucapan Alhamdulillah saja. Allah ta’ala tidak berfirman kepada Nabi Dawud AS, “Ucapkan syukur kepada Allah”, namun berfirman “Lakukan!”. Ini berarti syukur tidak hanya sekedar ucapan tetapi juga dengan mengamalkan perintah Allah ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, syukur adalah realisasi ibadah itu sendiri. Ini tidak seperti dipahami sebagian besar orang bahwa syukur itu memuji Allah ta’ala dengan lidah.

 

Ada kisah tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aisyah radhiyallahu anhu merasa heran dengan qiyamul lail Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau melakukannya hingga kedua kaki beliau bengkaka. Dengan nada takjub dan penuh tanda tanya, Aisyah berkata .”Engkau masih berbuat seperti ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa silammu dan dosa-dosamu pada masa mendatang.?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” ( Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim ).

 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memahami syukur sebatas pujian kepada Allah saja. Menurut beliau syukur ialah upaya seluruh organ tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhai pemberi nikmat yaitu Allah SWT. Subhanallah begitu indah, tenang dan damainya Islam mendengar jawaban Rasulullah seperti itu.

 

Seseorang perlu ingat saat dirinya berada dalam kesesatan dan jahiliyah, lalu bagaimana Allah menyelamatkannya dari kegelapan pekat itu kepada cahaya yang terang. Ini seperti yang dilakukan UMar bin Khatab radhiyallahu anhu. Ia ingat saat dirinya berkubang dalam jahiliyah dan makan “Tuhannya” dari kurma. Ia pun tertawa ketika ingat masa lalunya yang “lucu” itu. Setelah menjadi kaya, orang muslim harus ingat bagaimana kondisi dirinya saat miskin. Ia mesti ingat hari-hari saat ia berada dalam ujian dan ruang geraknya dibatasi sebelum pindah ke tempat yang lain atau sebelum situasi beubah. Ia ingat bagaimana badai ujiian berlalu, lantas Allah menyelamatkannya dari badai itu.

Begitu tenangnya hidup ini jika dilandaskan rasa syukur yang tiada henti kepada-Nya.

karena Dialah, yang paling mengerti kita, lebih dari kita sendiri…

Dialah, yang paling menyayangi kita…

Dialah, yang paling mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita, sementara kita hanya sedikit saja mengetahuinya, dan itupun hanya berdasarkan pada persangkaan kita…

 

~ Dinni. H.

Pengantin abadi ^^

0

BismiLLahirrohmaanirroohiim…

 

 

Manusia dilahirkan dengan Cinta

 

Agama diturunkan dalam Cinta Dan hidup jadi indah dengan Cinta

Tapi Cinta dengan Cinta tidaklah sama

Ada Cinta karena Allah

Ada Cinta dalam panduan Setan

Dan Cinta akan selamat Dalam Panduan Zat Yang Punya Keselamatan

Jika Sarang Cinta adalah kalbu Maka dekatkan kalbu kepada Allah

Agar kalbu menjadi bersih Agar Cinta menjadi murni

Sedangkan Cinta antara laki-laki dan perempuan 

 

Adalah bagian dari perhiasan dunia

 

Kalau dirawat dengan Iman dan Taqwa Akan menjadi perhiasan akhirat

 

Dalam hati yang bertauhid Suami bukan pujaan Dan istri bukan idaman

Dalam tauhid Suami istri adalah teman berjamaah

Dalam mengagungkan Allah Suami adalah imam dan istri adalah makmum

Dalam keluarga yang mengagungkan Allah

Rumah akan dihiasi dengan keindahan shalat

Tempat tinggal akan diharumkan dengan aroma Alquran

Suami mencarikan nafkah istri akan menjadi amal shaleh

Istri tersenyum kepada suami akan menjadi sedekah

Alangkah indah hati yang beriman Cinta pun mekar dalam damai

Sehingga rumah menjadi cerminan surga Dan 

 

kalau suatu saat terpaksa bertengkar

 

Tidak membuat rumah tangga bubar Bertengkar dalam cinta sejati

Bertengkar yang diselimuti iman dan taqwa   

Akan memperbaharui cinta itu sendiri

Suami istri Dua butir embun Yang bersatu dalam sekuntum mawar

Suami mengucurkan keringat kerja Istri berdoa dalam hati yang berbunga

Langkah diayun bersama Menuju Ridha Ilahi

Dua jiwa bersatu dalam taqwa Akan menjadi mempelai cinta

Cinta akan segar sampai tua Bahkan ke sorga pun

Diatas perkampungan Yang kerikilnya terdiri dari batu-batu permata

Dalam ridha Allah, Akan tetap menjadi pengantin abadi ….~~

 

~ Dinni. H.

### HARI-HARI PENANTIAN ###

0

Bagi seorang gadis, ada masa penantian yang acapkali menimbulkan suasana rawan, menanti jodoh. Padahal jodoh, maut dan rezeki adalah wewenang Allah semata. Tak ada sedikitpun hak manusia untuk mengklaim wewenang tersebut. Tapi, watak manusia terkadang lupa dengan janji Allah. Apalagi bila lingkungan sekitarnya terus menerus memburu’nya untuk menikah, sementara jodoh yang dinantikan tak kunjung tiba. Dalam keadaan demikian, kerap muncul bermacam efek yang dapat membahayakan dirinya.

Seorang wanita akan dianggap dewasa bila ia telah mengalami menstruasi. Islam mencatat masa ini sebagai masa awal mukallafnya seorang wanita. Yang perlu diketahui, wanita sekarang menjadi akil baligh jauh lebih cepat dibanding masa dahulu. Dua puluh tahun yang lampau, wanita paling cepat mengalami menstruasi pada usia 15 tahun. Namun pada masa ini, tak jarang wanita mulai mens pada usia 11 tahun. Akibatnya, kedewasaan wanita terhadap masalah-masalah perkawinan akan meningkat secara cepat.

Keresahan mulai melanda tatkala usia sudah merangkak naik, tapi calon suami tak kunjung datang. Tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seseorang yang sudah dianggap sebagai teladan dilingkungannya. Ada muslimah-muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara walimah ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Ada juga yang bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.

 

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang nggak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki (ikhwan) yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “ikhwan” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.

 

Data yang terlihat dibeberapa biro jodoh juga menambah daftar panjang fenomena yang menggambarkan betapa kaum Hawwa sangat dihantui masalah-masalah rawan yang membuat kita berpikir panjang dan harus segera dicarikan jalan keluarnya.

 

Tentang hal diatas, Al qur’an dengan apik mengisahkan ketidakberdayaan seorang wanita menghadapi masa penantian. “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali …” (QS. An Nahl:92).

 

Pernikahan memang bukan fardhu. Tidak ada dosa atas seseorang yang tidak menikah selama ia memang tidak menentang sunnah Rasul ini. Jadi, sekarang atau nanti kita menikah, bukanlah problem utama. Yang terpenting adalah bagaimana mengisi masa-masa penantian ini dengan hal-hal yang positif ataupun aktifitas yang berkenaan dengan persiapan pra nikah.

 

Persiapan berawal dari hati. Kebersihan hati akan membuat seseorang tenang dalam melangkah. Istilah “perawan tua” tidak akan menggetarkan perjalanannya dan membuat dia berpaling dari jalan dakwah. Kalaupun tak berjodoh di dunia, bukankah Allah akan menggantikannya di akhirat kelak sesuai dengan tingkatan amalnya?

 

Kebersihan hati juga akan sangat menentukan sikap qona’ah (ikhlas menerima dan merasa cukup) terhadap pemberian Allah. Sehingga ia dengan senang hati menerima, jika sekiranya Allah memberinya jodoh seseorang yang secara fisik (selain agama) tidak sesuai harapannya, agar tidak kaget melihat standar kebahagiaan yang diluar bayangannya.

 

Orang tua dan keluarga juga perlu dikondisikan, agar mereka tidak menyalahkan Islam. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa jilbab adalah yang selama ini menjadi penghalang anaknya tidak mendapatkan pasangan.

Selain itu, bersabar dan berdo’a nampaknya merupakan kunci mutlak untuk menstabilkan moral (akhlaq). Dengan kesabaran, ada pintu-pintu yang terbuka yang barangkali tak terlihat ketika kita sedang sempit dada. Dengan do’a, ada jalinan mesra dengan Sang Pemilik. Mungkin tidak saat itu juga do’a-do’a kita akan segera dikabulkan, tetapi bukankah do’a adalah ibadah? Jadi, semakin banyak do’a terucap, semakin banyak pula ibadah dilakukan.

 

Buat para muslimah yang baru saja menikmati keindahan meneguk bahtera rumah tangga, tampaknya ada sikap yang harus dilakukan untuk menjaga perasaan muslimah yang belum menikah. Istri-istri baru itu, biasanya senang “mengompori”. Sebenarnya sikap ini sah-sah saja, agar tampak bukti bahwa menikah tanpa pacaran, menikah dalam rangka dakwah adalah “pengorbanan” yang menyejukkan. Tapi jika hanya sekedar memanasi tanpa solusi, sebaiknya sikap seperti itu ditahan. Apalagi jika si muslimah

itu tidak siap dengan cerita-cerita seputar nikah itu, bisa jadi akan memedihkan perasaannya.

 

Namun demikian, lain halnya dengan muslimah-muslimah yang ‘bandel’, yang dengan berbagai alasan kerap menolak untuk menikah meski seharusnya sudah siap. Baik tuntutan dakwah maupun tuntutan lainnya.

Menikah adalah ibadah. Tapi, ia bukan satu-satunya ibadah. Masih banyak alternatif ibadah yang bisa dilakukan. Alangkah naifnya bila kita malah banyak membuang waktu untuk memikirkan masalah pernikahan yang tak kunjung juga teralami. Masih banyak pekerjaan dan hal lain yang membutuhkan penyaluran potensi kita. Mumpung masih gadis, optimalkanlah potensi diri. Karena kelak, jika kesibukan menjadi istri dan ibu menghampiri kita, waktu untuk menuntut ilmu, menghapal ayat Qur’an dan hadits, bahkan untuk bertemu Allah di sepertiga malam, tentu saja akan berkurang. Nah, kenapa tidak kita optimalkan sejak sekarang?

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS 3:142)

 

~ Dinni. H.